BERITAMU.ID – JAKARTA, Nilai tukar rupee India diperkirakan melemah hingga menembus level psikologis 94 per dollar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran yang berpotensi berlangsung lebih lama dan memicu tekanan pada pasar keuangan global.
Berdasarkan indikasi pasar non-deliverable forward (NDF) tenor satu bulan, pasangan USD/INR diproyeksikan dibuka di kisaran 94,20–94,25 per dollar AS. Posisi ini mendekati level terendah sepanjang masa yang sempat menyentuh 93,9775 pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupee dipicu oleh kombinasi sentimen global, termasuk meningkatnya aversi risiko investor, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas 100 dollar AS per barel.
Seorang pelaku pasar valas di India menyebutkan bahwa konflik Timur Tengah kini diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, sehingga memicu penyesuaian harga di berbagai aset keuangan.
“Rupee mau tidak mau harus ikut menyesuaikan tekanan tersebut,” ujarnya.
Pasar saham India juga diperkirakan dibuka melemah, menghentikan tren pemulihan yang sempat terjadi dalam dua sesi terakhir. Meskipun indeks saham sempat menguat sekitar 3,5 persen, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih, sehingga membatasi penguatan mata uang domestik.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, rupee telah terdepresiasi sekitar 3,5 persen dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Tekanan eksternal semakin kuat setelah bursa saham Amerika Serikat terkoreksi hampir 2 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menembus 4,4 persen, mencerminkan kekhawatiran inflasi yang meningkat.
Sementara itu, harga minyak Brent melonjak hampir 6 persen, didorong oleh kekhawatiran bahwa konflik Iran tidak akan segera berakhir dan berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran harus mencapai kesepakatan atau menghadapi tekanan militer berkelanjutan. Di sisi lain, pejabat tinggi Iran menilai proposal deeskalasi dari Washington sebagai “tidak adil dan sepihak”.
Laporan juga menyebutkan bahwa Pentagon tengah mempertimbangkan pengerahan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Teluk, yang semakin meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik menjadi perang darat.
Kepala riset Pepperstone, Chris Weston, mengatakan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita geopolitik.
“Perdagangan saat ini didominasi oleh berita utama yang mencerminkan perbedaan tajam antar pihak dan meningkatnya retorika terkait potensi keterlibatan militer AS di Iran,” ujarnya.
Meski Presiden Trump sempat mengumumkan jeda serangan selama 10 hari terhadap fasilitas energi Iran, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar maupun mendorong pemulihan aset berisiko secara signifikan. (QME)



