BERITAMU.ID – JAKARTA, 2025/2026 – Persediaan emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dilaporkan semakin menipis seiring meningkatnya permintaan masyarakat dan pasar domestik. Kondisi ini memicu berbagai langkah strategis dari perusahaan maupun pemerintah untuk menjaga ketersediaan logam mulia bagi investor dan industri.
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Antam saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 1 ton emas per tahun dari tambang yang ada, sementara permintaan domestik mencapai puluhan ton per tahun. Produksi yang rendah ini juga dipicu oleh terbatasnya operasi di sejumlah lokasi, termasuk tambang Pongkor di Jawa Barat, yang cadangannya mulai menipis.
Kondisi tersebut membuat Antam dan pemerintah tengah mempertimbangkan sejumlah opsi kebijakan. Salah satunya adalah Domestic Market Obligation (DMO) untuk emas, yang bertujuan memastikan sebagian produksi emas domestik diprioritaskan untuk pasar dalam negeri. Rencana kebijakan ini muncul sebagai respons terhadap supply gap antara produksi dan permintaan yang terus meningkat.
Lebih jauh, Antam sendiri telah mengaku telah mengambil langkah adaptif di tengah persediaan fisik yang makin terbatas. Misalnya, pada tahun 2025 perusahaan mengoptimalkan layanan digital dan memperkuat jaringan distribusi untuk mengantisipasi kelangkaan emas batangan di butik dan mitra penjualan agar tetap bisa melayani konsumen.
Imbas dari stok yang ketat juga terlihat di aktivitas pasar. Selama beberapa periode harga emas Antam menunjukkan fluktuasi, termasuk penurunan harga jual pada awal 2026, yang salah satunya dipengaruhi oleh dinamika stok dan permintaan pasar.
Situasi pasokan ini menjadi perhatian pelaku pasar dan investor karena Antam merupakan penyedia utama emas batangan bernilai investasi di Indonesia. Kekurangan stok Antam sering kali mendorong investor mencari alternatif seperti produk logam mulia lain (misalnya Galeri24 atau UBS), yang kadang lebih mudah didapat saat persediaan Antam terbatas.
Pemerintah dan Antam sendiri masih terus mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi kekurangan pasokan, termasuk meningkatkan kerja sama produksi dengan pihak lain seperti rencana pasokan emas dari PT Freeport Indonesia hingga puluhan ton per tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan emas sebagai instrumen investasi masih kuat di Indonesia, ketersediaan persediaan fisik tetap menjadi tantangan utama, yang memicu kebijakan penyesuaian serta strategi produksi baru guna menjaga stabilitas pasar emas domestik. (LQA)



